Tokoh-Tokoh Pujangga Baru: S. Takdir Alisjahbana

Motor dan pejuang bersemangat gerakan pujangga baru adalah S. Takdir Alisjahbana (lahir di Natal tahun 1908). Ia telah sejak tahun 1929 muncul dalam panggung sejarah sastra Indonesia, yaitu ketika menerbitkan romannya yang pertama berjudul Tak Putus Dirundung Malang. Roman ini diterbitkan oleh Balai Pustaka seperti juga roman-romannya yang lain. Roman kedua yang ditulisnya berjudul Dian Jang Tak Kundjung Padam (1932) dan yang ketiga berjudul Lajar Terkembang (1936). Roman yang berjudul Anak Perawan Disarang Penjamun (1941) ditulisnya lebih dahulu dari Lajar Terkembang dan dimuat sebagai feuilleton dalam majalah Pandji Poestaka, tetapi diterbitkan sebagai buku lebih kemudian. Tigapuluh tahun kemudian konon Takdir menulis sebuah roman pula bejudul Grotta Azzurta (Gua Biru) yang diterbitkan berkenaan dengan hari lahirnya yang ke-60.

Lajar Terkembang merupakan roman terakhir yang terpenting. Roman ini jelas bukan roman sekedar bacaan perintang waktu, malainkan sebuah roman bertendensi. Di sini Takdir melalui tokoh Tuti menyampaikan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya tentang peranan wanita dan kaum muda dalam kebangunan bangsa. Kisahnya adalah tentang dua orang gadis bersaudara, Tuti dan Maria. Tuti seorang yang sungguh-sungguh, bekerja sebagai guru, dan Maria seorang periang lincah. Tuti sebagai gadis yang tergolong kaum muda, aktif pula dalam gerakan wanita. Ia merasa berkewajiban untuk membela kedudukan kaumnya di mata laki-laki. Tetapi iapun berjuang pula melawan hatinya sendiri yang tak lepas dari sifat kewanitaan yang memimpikan suami dan menjadi seorang ibu.

Kedua orang gadis itu berkenalan dengan Jusuf, seorang mahasiswa kedokteran. Meskipun Jusuf pada mulanya tertarik kepada Tuti, tetapi ia kemudian menjadi kekasih Maria. Kematian Maria oleh penyakit TBC, terasa terlalu dipaksakan pengarang yang kelihatannya hanya mau mempertemukan cinta Jusuf dan Tuti.

Roman ini biasanya dianggap sebagai salah satu roman terpenting yang terbit pada tahun tiga puluhan, merupakan salah satu karya terpenting pula dari para pengarang pujangga baru.

Kecuali sebagai penulis roman, Takdir terkenal sebagai penulis esai dan sebagai pembina bahasa Indonesia. Oleh Ir. S. Udin ia pernah disebut sebagai “Insinyur Bahasa Indonesia”. Atas inisiatif Takdir melalui Poedjangga Baroelah maka pada tahun 1938 di Solo diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia yang pertama. Sehabis perang, Takdir pernah menerbitkan dan memimpin majalah Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952). Dalam majalah itu dimuat segala hal ihwal perkembangan dan masalah bahasa Indonesia. Tulisan-tulisannya yang berkenaan dengan bahasa kemudian diterbitkan dengan judul Dari Perdjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957).

Takdirpun ada juga menulis sajak. Sajak-sajak yang ditulisnya dekat setelah kematian istrinya yang pertama, diterbitkan sebagai nomer khusus majalah Poedjangga Baroe berjudul Tebaran Mega (1936). Dalam sajak-sajak itu tergambar pergaulan Takdir yang semula hampir mati tenggelam dalam kesunyian teosofi Krishnamurti lalu bangkit menjadi pejuang bersemangat yang gembira-riang. Sajak-sajaknya terang dan jelas, kadang-kadang terasa prosais. Kecuali yang dimuat dalam Tebaran Mega masih ada pula beberapa sajaknya yang tersebar dalam berbagai majalah.

Image Hosting

Esai-esai Takdir tentang sastra sebenarnya banyak juga, antara lain dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe, misalnya ‘Puisi Indonesia Zaman Baru;, ‘Kesusasteraan di zaman Pembangunan Bangsa’ (1938), ‘Kedudukan Perempuan Dalam Kesusasteraan Timur Baru’ (1941), dan lain-lain. Iapun menyusun duaserangkai bungarampai Puisi Lama (1941) dan Puisi Baru (1946) dengan kata pengantar yang menekankan pendapatnya bahwa sastra lama merupakan pancaran masyarakat lama dan sastra baru sebagai pancaran masyarakat baru. Perubahan masyarakat itu menyebabkan perubahan puisi dan sastra pula.