Another Inspirational Story

Well it has been a long time ago since I’ve updated this blog. My national exam has passed smoothly anw.

Another inspiring story, this time’s post tittle.

Tidak lebih dari lima menit yang lalu, aku menerima kabar itu. Ya, kabar tentang meninggalnya sepupu perempuanku. Well tentu saja ini membuaktu agak sedikit shock. Maksudku, dia benar-benar hanya setahun atau dua tahun lebih tua dariku, dan ugh tahu-tahu saja dia meninggal. Betapa Tuhan bisa mengambil nyawa siapapun yang dikehendakinya. Subhanallah.

Sebenarnya meninggalnya teman-teman yang usianya hampir sebaya denganku bukanlah hal baru, beberapa bulan lalu pun aku telah menghadapi situasi seperti ini. Namun tetap saja berbeda rasanya. Kisah hidupnya, sepupuku ini, bukanlah kisah yang orang kebanyakan miliki. Aku pun tak tahu bagaimana aku jadinya kalau harus mengalami kisah hidupnya.

Kiki lahir dengan keterbelakangan mental. Ia tak bisa melakukan segalanya sendiri. Kemana-mana ia harus didampingi oleh seseorang. Ia bahkan tak bisa mengucapkan kata-kata secara jelas. Ia sungguh seperti balita. Bahkan ia tak bisa buang air kecil ataupun besar di kamar mandi. Ia tak punya rasa malu. Selama bertahun-tahun aku melihatnya seperti itu. Awalnya jelas aku merasa jijik. Meskipun keluargaku hanya mengunjunginya tiga atau empat kali dalam setahun, itu sudah cukup membuatku kapok bertemu dengannya saat aku masih kecil. Namun setelah beranjak lebih dewasa aku menyadari, ini bukan kemauannya, dan juga bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan. Aku sungguh merasa kasihan padanya. Bagaimana harusnya ia melewati masa-masa yang saat itu kualami. Sekolah, teman-teman, pacar, segalanya tentang keindahan masa muda. Namun jangankan mengalaminya, ia malah harus selalu mendekam dirumah karena keluar rumah hanya akan membuat para tetangga takut padanya. Akhirnya setiap kali berkunjung kesana aku mengerti mengapa saudara-saudaraku mengidolakannya. Dibalik keterbelakangan mentalnya, sungguh sangat menyenangkan melihatnya tertawa saat kami menggodanya, seperti punya adik kecil :’)

Penyakit ini bukannya tidak di lawan oleh paman dan bibiku. Awalnya mereka sungguh sangat mengusahakan agar Kiki bisa sembuh. Namun lagi-lagi, hidup tak selalu indah. Mereka bukan dari golongan orang berada. Mereka hidup sangat pas-pasan sehari-harinya. Sampai akhirnya mereka menyerah. Menyerahkan segalanya pada Yang Kuasa. Pasrah terhadap apa yang direncanakan-Nya untuk mereka.

Akhirnya, yah begitulah mereka menjalani hari-harinya. Sebuah keluarga kecil, ayah, ibu, satu anak, bisa dikatakan keluarga bahagia, dengan setiap tetes keringat dan air mata untuk bertahan hidup. Aku masih jelas mengingat saat pamanku berkata smbil matanya berkaca-kaca, “Sudah nyerah dik (pada ayahku), sudah nggak tahu mau diapain lagi. Ya gimanapun kondisi anak kan harus diterima aja.”

Lalu akhir-akhir ini ayahku sering diminta mengantarkan Kiki ke rumah sakit. Sepertinya ada sesuatu yang bermasalah dengan paru-parunya. Meskipun ayahku mengatakan itu bukan penyakit serius, tetap saja aku curiga. Entahlah, sepertinya kesedihan selalu mampu menemukan mereka. Setidaknya aku menganggapnya begitu, meskipun mereka jelas mensyukuri setiap menit yang ada tak peduli apapun keadaannya. Dan terakhir kali keluargaku mengunjungi mereka, aku masih tetap melihat bibiku yang penuh semangat. Dalam balutan rambut putihnya yang sudah sangat mendominasi sekarang, ia kesana kemari membereskan segalanya. Mencuci piring, menyapu, memasak, meskipun aku sempat melihat secercah kelelahan yang amat sangat di wajahnya. Dan Kiki tentu saja, tetap dengan wajah polosnya yang tanpa dosa, berusaha menyapa ayahku dengan kata-kata yang menggumam tidak jelas. Ya. Itulah terakhir kali aku melihatnya.

Sebenarnya meninggalnya Kiki juga bukan sesuatu yang seharusnya disesali. Mungkin dengan begitu ia telah melepaskan beban berat. Ia sudah tenang. Kembali bersama Yang Kuasa. Aman di sana. Tanpa perlu lindungan dari orang tuanya lagi. Dia akan baik-baik saja dan bahagia di sana. Aku tahu itu.

Well memikirkan dia membuatku menyadari, aku sungguh sangat beruntung. Memiliki kemampuan bergerak bebas, berpikir, berbicara, dan segalanya. Waktu bukanlah sesuatu yang bisa dibeli. Dan aku akan menggunakan waktuku sebaik-baiknya. Aku akan terus berusaha hingga tujuan itu tercapai. Kesuksesan. Kesuksesan yang tidak sempat Kiki rasakan di dunia. Aku akan berusaha mewujudkannya. Aku akan sukses. Untukku, untuk orang tuaku, untuk seluruh keluargaku, untuk Kiki. Aku berhutang budi padanya.

Advertisements