Infeksi dan Penyakit Tropis – Skenario 1

Hello 🙂 Here first of one I’ve ever promised. My laporan tutorial ehehe. Dari blok 8 sistem KBK FK UNS, Infeksi dan Penyakit Tropis. As a summary, here’s the scenario:

Seorang laki-laki 35 tahun, datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan demam tinggi 4 hari. Pada anamnesa didapatkan keterangan bahwa demam mulai dirasakan sejak 8 hari yang lalu, yang timbul terutama pada sore hari hingga malam hari. Demam semakin tinggi jika melakukan aktivitas. Keluhan lain adalah mual, muntah, lemas dan diare.
Hasil pemeriksaan fisik, didapatkan febris remiten, bradikardi relatif, typhoid tongue, tidak ada sklera ikterik maupun hepatoslenomegali. Data laboratorium menunjukkan lekopeni, IgM Salmonella meningkat, apusan darah tebal tipis malaria negatif 3 kali, marker hepatitis A,B, dan C negatif, IgM lepto negatif. Penderita sudah berobat ke puskesmas dan diberikan antibiotik golongan flouroquinolon. Bagaimana assesement anda pada penderita ini?

download laporannya di sini

enjoy 🙂 maap kalo agak berantakan

Advertisements

New Semester, New Hope

Aaaawww long time no post yeeeee hehehe

Anyway kabar terbarunya adalaaahhh *jeng jeeeeng* bahwa semester 1 sudah (quite) successfully passed (meskipun dengan IP yang sangat sangat jauh dari harapan hiks) dan semester 2 baru saja dimulaaaaaiii 🙂

Well awal-awal semester gini pasti semangat masih on fire dan masih bermimpi setinggi-tingginya tentang apa yang bakal dilakuin dan (diharapkan) bakal tercapai satu semester ini. Dan buat saya pribadi, ngeliat blok-blok yang semakin lama semakin *ehm* naudzubillah harapan saya sih nggak terlalu muluk yaaah, ada blok yang dapet A satuuuuu aja udah bersyukuuuurr banget. Apalagi semester 2 ini juga udah mulai aktif di organisasi, di BEM, di CIMSA jugaa, dan malah ini mau nambah lagi SCARTA sama BSMI (tapi masih galau mikirin ntar bisa bagi waktunya apa engga cuuuuyyy *pusing*)

Yaaaahh semoga lah ya, semester ini oke di segalanya. Enjoying my life as a medical STUDENT much deh sebelum jadi real doctor *when time to do silly-but-makes-happy things will be very very limited*. Last but not least, i love my job, i love my (deadfully busy *lebay*) activities, and i am very grateful that i have a chance to feel all of that sensations 🙂 🙂 🙂

@AnindyaNQ – Posted with WordPress for BlackBerry.

ESQ With “The ESQ Way 165”

Hellooo i’ve just gotten back home from an ESQ Training with The ESQ Way 165. Well this post just gonna review a bit about my ESQ for about this two days.

Firstly this ESQ simply annoying. I mean well this is my Saturday and Sunday. THIS IS MY HOLIDAY! AND I SHOULD GET BACK TO SURABAYA ACTUALLY *muka serem*. But yeah because of this f-ing ESQ then i have to stay in Solo and postpone my arriving to Surabaya till next week.

Well tapi setelah ikut dua hari ini, kesimpulannya ESQ-NYA CUKUP MENARIK. Atau mungkin malah SANGAT MENARIK bagi sebagian orang (sebagian orang yang nangis waktu ESQ hehehe *smile*). ESQ nya sip sih overall, yang dibahas tentang langkah sukses (How we should act, what we should do to be a successful person) plus dihubungin sama religiusnya (How your success can lead you to Allah’s side, how to get an eternal happiness from your success), and many more. Intinya buat orang yang emang bener-bener “dapet” esensi dari ESQ kali ini, ini bisa buat jadi “tamparan keras” tentang tujuan hidup kita selama ini, tentang apa sih yang paling penting di dunia ini, tentang apa sih yang SEHARUSNYA jadi nomer satu di hati kita, di pikiran kita, dan buat mahasiswa khususnya, kita disadarin soal gimana seharusnya pengabdian kita, gimana kita seharusnya bertindak sebagai mahasiswa yang peduli kampusnya, dan insya Allah bikin kita makin cinta sama kampus kita dan berusaha buat banggain *smile* HIDUP MAHASISWA!

Hmm mungkin sodara-sodara yang baca harus ikut training nya dulu kali ya baru bisa ngerti apa yang saya maksud. Cuman yang jelas bagi sebagian besar orang ESQ ini bener-bener menyentuh dan “ngena” banget. Soalnya nggak seperti ESQ biasa yang biasanya kita cuman dibuat nangis sekali dua kali doang, tapi sama The ESQ Way 165 ini sehari 5 kali nangis aja ada deh kayaknya, apalagi kita ikutan acaranya dua hari, tinggal kaliin aja berapa kali nangis, berapa kali diingetin “goal” kita di situ, di kampus, di dunia, di akhirat, dan berapa kali itu “dipaksa” buat nancep di pikiran dan hati kita *wink*

Tapi ye sejujurnya, saya nggak nangiis *muka datar*. Entah saya terlalu nggak sensitif, terlalu keras hatinya, terlalu banyak setannya *eh*, apa gimana, yang jelas pas udah mulai masuk fase sedih dan yang lain mulai terisak, aku bingung. Kalo ditanya terharu apa enggak, iya terharu. Ngerasa salah, ngerasa dosa apa enggak, iya ngerasa salah, banget. Dan bahkan kalo ditanya pengen nangis apa engga, iya pengen. Tapi entah mengapa, i just can’t. Maybe i’ve already forgotten how to cry, agak absurd, emang. Dan yang jelas tiap kali lampu mulai mati, saya bakal nunduk kayak yang lain. Tapi yang lain nunduk karena pengen khusyu’ (dan berhasil soalnya mereka nangis), saya, juga nunduk karena pengen khusyu’ (dan gagal soalnya saya ketiduran). Seriously ya, what’s going on me. SETIAP KALI lho ya, perlu diingat, setiap kali lampunya dimatiin syaraf saya otomatis memerintahkan “ayo tidur”. Dan gobloknya saya bener-bener tidur.
Yah itu tadi sedikit pengalaman saya dari ESQ tadi, yang saya –berharap- pengen dapet manfaatnya (meskipun agak konyol, lha wong pas renungan aja tidur mintak dapet manfaatnya -__-)

Nb: oh ya mas-mas ATS nya ada yang good looking kayak artis korea, kayak siwon malah kata temenku *krik krik* ya sebenernya nggak selebay itu good looking nya, tapi ya tetep laah good looking, charming, asik dipamerin deh pokoknya. Dan coba tebak, beberapa mahasiswi alay MINTAK FOTO SAMA MASNYA PAS UDAH SELESE. Ebuset yaaa mau ditaro dimana muke lu. Dia artis aja bukan, udah ada yang antri aja minta foto bareng. Err it just sounds so silly to me. Meninggikan pria. Please girls, where’s your selfrespect. Ran into boy? Who doesn’t even yours? Oh once again please.

*no offense, really* *smile*

Saya (kanan) bersama teman saat ESQ

Saya (kanan) bersama teman saat ESQ

name tag *smile*

name tag *smile*

janjiku

janjiku

@AnindyaNQ – Posted with WordPress for BlackBerry.

Di Solo Cuman Numpang, Jadi …

Sebagai mahasiswa baru, dengan status anak perantauan pula, pastilah awal-awal gini bawaannya kepikiran daerah asaaal mulu. Tiap ada libur dikiiit aja pasti deh disempetin buat pulang 😉 Kangen ortu, kangen keluarga, kangen rumah, jelas laah. Secara kita (saya maksudnya hehe) yang notabene sejak lahir nggak pernah tinggal jauh dari ortu nah tiba-tiba sekarang bener-bener HARUS hidup sendirian. Apa-apa sendiri. Mulai dari bangun tidur nggak ada yang bangunin, mikir mau makan apa sendiri, mikir perlu apa buat bla bla bla, seriously ya bahkan dalam rumah tangga aja kerjaan ginian dibagi dan dikerjain cewek cowok, lha ini *sigh*. Anyway sori sebenernya nge-post ini bukan buat curhat ato kompain kok 😉

Masalahnya pada beberapa pihak *ehm* lingkungan baru kadang dijadiin “tumbal” ato apapun itulah. Maksudnya sering banget gitu ngeliat update-an status dari temen-temen perantauan di Solo juga, contohnya yang paling sering nih ya kurang lebih “Aduh solo apaan nih, gak ada bla bla nya, coba di kota gue, duuh begituan mah bejibuuun” kalo gak gitu “iya cyiiin solo gak gaul banget deh, masa itunya ya bla bla bla bla”. Please ya teman-teman, ini Solo 🙂 kalo emang mau dapet suasana yang seperti, mirip, bahkan persis kota anda, ya monggo noh silahkan mbalik ke kota tercintaaa 😉

Sering sih mikir begitu juga, soal betapa bedanya Solo sama kota asal saya, Surabaya. Betapa Solo nggak se-metropolitan Surabaya hahaha. Well tapi berhubung saya emang orangnya nggak suka ngeluh dan nriman #eh jadi saya mah fine-fine aja tinggal di Solo 🙂 Toh ini kan konsekuensi. Saya udah kadung cinta UNS dan nggak mungkin UNS nya diboyong pindah ke Surabaya, kasian temen-temen yang “punya” UNS dong yah ntar hehehe.

Jadi kesimpulannya, saya kan cuman “numpang” di Solo ini, dan baiknya Solo mau nerima saya 😉 Jadi nggak usah lah ngeluh soal ini itu yang nggak penting. Toh there’s no other choice. Pilihannya cuma terima UNS apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya (ecieeeh) ato nggak usah terima sama sekali. So mau milih yang mana?

A New, Beginning, Start, Or Whatever You Called It, “True” Life

It’s been 2 months since I have my new life, to be a medical school student I mean. And yeah like a globe that spins so fast, there’s up and down 😀

Setelah bener-bener “memutuskan” serius di bidang ini – dengan mikir kalo “there’s no way to back” – ada secercah kekhawatiran yang masih ngganjel. Seenggaknya ngerasa minder gitu, temen-temen yang masuk dari jalur SNMPTN Tulis bahkan jalur mandiri grade nya tinggi-tinggi bangeeeet T.T hampir 90% cobaaa, dewa sekali kaaaan rekan-rekan sejawat iniiii. Mulailah gue mikir, gue diterima di sini bisa dibilang “cuma kebetulan” rapor gue bagus selama SMA, dan soal akademik selama SMA? Beuuuh jangan ditanya, gue males belajar! Akhirnya gue minder sendiri dong, masak iya ntar gue jadi yang paling gak lemah diantara temen-temen gue? Gengsi dong mameeeen, mau ditaro mana nama almamater gue –”

Jadi akhirnya gue berkomitmen (lagi :D) buat serius belajar. GUE JANJI GAK BAKAL MALES BELAJAR LAGI! Jadi dokter gak boleh males, jadi dokter kudu rajin, jadi dokter butuh pengorbanan. There’s a lot of people need my help outside there 🙂

A Note from A Doctor To Be (Baca: Curhat Gue)

Being a medical school student? Some people want it so much. They even are willing to pay so much money to be one of them. Then me? God give me this, with as minimum payment as possible. Yes God, I gratefully thanked to you for this. Even if at first, I do uncertain about this. I mean, you know, I’m not giving my 100% for this. I don’t really want to be a doctor (well after I was declared to be one of a medical school student, I’ve just realized it). I only have 30% assureance to be a doctor, then the rest 70%? I just want to make my parents happy. I know they don’t say their avidity by them self. But I can summarize it implicitly from our conversations.

Well, I guess I have no choice, I should try this first. Like what I’ve ever heard, “If you don’t like your college, at least try it for one semester, if you still don’t like it, then try for one year, if it’s not one year, then try for two, three, and four years (well, six years in my case). If after those years and you still don’t like it, yeah you can leave.” Then, I guess it means forever. And I’ve decided. YES I’LL TRY TO BE A DOCTOR. THE GOOD DOCTOR ONES. I’ve decided to put my best on this. Even if I have to work with cadaver every day, doing surgery (which I see so awfully before). But I promise I’ll do my best. One of my favourite quotation from my friend: “If God gives you ‘a medical school student’ status, IT MEANS HE BELIEVES THAT YOU CAN DO IT” (ALFIII, thank you for this word 😀 very inspiring)

Beside, being a doctor is a lofty job. Helping people, avoiding people form sickness, avoiding people from hurting more, I guess this is my way to thanked God for everything he gave me all the time (even if I know being a doctor for 1000 years won’t ever equal to 1/1000000 comfort he given me, well at least, I’m trying).

And, the lesson you, readers, can take from my story are: “Try to accept things God given to you. Always take everything from positive side. And please sort everything you wanna do. If you thought you don’t have enough reason to do it or to be there, just leave it” cause everything can be succesfully done as long as you have enough reason to do it. Cheers 😀

*CMIIW with my english LOL

Berhenti Mendikte Tuhan, Kawan!

Akhir-akhir ini, pikiran saya sedang dipenuhi tentang universitas, jurusan, kemana saya akan melanjutkan studi selepas SMA, dan yang semacamnya. Emm well sebagai manusia kita pasti pernah sangat menginginkan sesuatu, sangat sangat ingin sehingga kita berdoa siang malam kepada Tuhan agar Ia mengabulkannya. Demikian juga saya.

Sejak awal masuk kelas XII sampai akhir-akhir ini, saya selalu berkata pada Tuhan “FK Tuhan, tolonglaah, FK, FK!” (Fakultas Kedokteran,red)

Well sebenarnya bukan suatu kesalahan kalau kita meminta pada Tuhan sebagaimanapun seringnya. Justru kita HARUS selalu meminta kepada Tuhan, menyandarkan semua masalah kita kepadaNya, memohon pertolonganNya, meyerahkan jalan hidup kita kepadaNya.

Maka pantaskah kita memaksa Tuhan untuk menuruti kemauan kita

Tidakkah lebih baik jika doa kita berbunyi “Ya Tuhan, kuserahkan masa depanku di tangan Mu. Aku tahu Engkau selalu memberi yang terbaik untukku. Ya Tuhan, aku hanya memohon, tolong mudahkanlah jalanku untuk mencapai apa yang Engkau kehendaki untuk kumiliki. Yakinkanlah diriku bahwa itu jalanku. Dampingilah aku dalam mencapainya Ya Tuhan. Sesungguhnya tiada pantas aku meminta kepadaMu. Tapi apa daya, aku hanyalah hambaMu yang tidak punya kuasa apapun jika dibandingkan Engkau, penguasa seluruh kehidupan.”

Tidakkah itu terasa sangat lebih baik?

Well setidaknya buat saya, itu terasa jauh lebih baik. Karena toh FK bukan segalanya. Tuhan bisa menjadikan saya apapun yang dia mau. Bisa saja saya dijadikan lulusan FK yang tidak berhasil, ataupun lulusan jurusan yang menurut saya tidak punya prospek, tapi Tuhan bisa menjadikannya sangat prospektif buat saya.

Jadi saran saya, Kawan, berhentilah mendikte Tuhan. Belajarlah semampu Anda, sekeras Anda bisa, sampai waktu yang telah ditentukan. Lalu biarkan Tuhan mengurus sisanya. Dia tahu yang terbaik, jangan ragukan itu. 🙂