Random 151215

Hari ini lagi-lagi aku cemburu
Iya, aku cemburu pada teman-temanmu
Aku cemburu pada band favoritmu
Aku juga cemburu pada sepakbola kegemaranmu
Karena kepada merekalah engkau pilih untuk menghabiskan waktumu
Lantas me-nomorsekian-kan aku

Kekanak-kanakan, ya?
Tidak juga menurutku.
Aku bukannya tidak membolehkanmu menghabiskan waktu selain denganku
Hanya saja aku menuntut jatah yang adil
Ketika dua jam mu ini untukku, yasudah, UNTUKKU.

Haha, tapi aku sadar siapalah aku ini
Berani benar menuntut waktu berharga seseorang
Toh kalau aku tak seberharga itu, tak pantas pula mendapatkan sesuatu seberharga waktu
Iya kan?

Advertisements

#CookingProject: Choco Pancake

C360_2015-04-01-17-43-20-099

Hihi jadi ceritanya lagi pseudo-holiday nunggu pengumuman ujian kompre keluar. Daripada nganggur dirumah dimulailah #CookingProject part 1. Setelah nyari resep apa yang cukup simple buat belajar masak pertama ini (beneran lho pertama kali seumur hidup bikin masakan yang agak ribet dari awal sampe akhir xxx), nemulah resep pancake, cuma biar lebih kece dikit dibikin jadi coklat (alesan padahal biar kalo gosong ga ketauan hehehe). Anyway, MUST TRY bgt menurut saya, rasa coklatnya malah bikin enak~.

Bahan:

  • Tepung terigu 250gr
  • Coklat bubuk 20gr
  • Gula 5sdt
  • Garam 1/2sdt
  • Baking powder 1/2sdt
  • Telur 2butir
  • Susu cair 250ml
  • Margarin 2sdm cairkan
  • Topping (sesuai selera ya, saya kemarin pake gula halus, susu kental manis, sama keju)

Cara Membuat:

  1. Masukkan tepung terigu, coklat bubuk, gula, garam, dan baking powder dalam baskom 1, campurkan.
  2. Dalam baskom 2, campurkan telur, susu, dan margarin cair. Kocok hingga rata.
  3. Masukkan cairan dalam baskom 2 ke baskom 1 secara perlahan sambil diaduk rata (kalo mau bagus boleh aduk pake mixer, saya kemarin pake mixer balloon nya aja udah lumayan bagus kok adonannya).
  4. Panaskan pan anti lengket, tuang adonan secukupnya (saya kemarin sekali cetak seukuran 2 sendok sayur). Tunggu hingga tampak tekstur berpori di bagian atas. Angkat.
  5. Ulangi hingga adonan habis.
  6. Hias sesuai selera.

Pretty simple huuh? Menyenangkan banget liat first try of #CookingProject nya berhasil hehe. Dicicipin orang rumah dan not bad kook yeaay. See ya with another recipe fellas 🙂

Deadline(s)

I believe there’s a time management ability, inside each one of us. Well some people got it naturally, and some others got it from sort of soft-skill training or whatever it is. And in my opinion, this is the ability that you MUST have when you wanted to be called adult, ha-ha I know adulthood doesn’t always mean time management ability but yeah believe me you gotta need this man!

When you had a lot of things to do and adjacent deadlines also, well this happens to me like all the time. I used to dispart my targets into small one, like each progress everyday so when the deadline comes up I won’t get too pressed, hopefully. But as a normal human, yeah I got tired, tedious or lack of spirit sometimes, and any other distractions.

And at this point I feel like I must have an ability to calculate, to get as much spare time as possible but still won’t failed on my targets too! Could you believe how amazingly adorable it is? Ha-ha even if I have to stay up all night long and drink coffees, I’m satisfied, no one aggrieved, case closed!

So students, manage your time wisely. Don’t lose your young adult time only hound on your targets and give yourself a free time. Much free time. Life doesn’t come twice. Cheers 😡

mem(BICARA)kan dan men(DENGAR)kan

Dear people.

Pernah membicarakan orang lain? Iya, sepertinya hampir semua orang pernah membicarakan tentang orang lain. Eits, ‘membicarakan orang lain’ tidak selalu berkonotasi negatif lho ya. Bisa saja kan membicarakan orang lain terkait kebaikan ataupun prestasinya? 🙂

Pernah terbayangkah bagaimana orang lain membicarakan kita? Pernah terfikir kira-kira bahan apa yang dibicarakan orang lain terkait kita? Baik dari sisi bagus maupun buruknya kita?

Well, the point is, semua orang adalah bahan pembicaraan bagi orang lain. Dan diantara bahan pembicaraan itu tentu selalu ada dua sisi, baik dan buruk. Apapun yang kita lakukan, orang lain menilai, dan itulah bahan pembicaraan mereka.

No matter what we do, people judge. Pernah dengar ini sebelumnya? Dengan kalimat itu orang cenderung berfikir ‘yasudah, toh apapun yang saya lakukan akhirnya akan dibicarakan orang lain juga’. Lantas? Sudah itu saja? Menurut saya sih, iya memang semua yang kita lakukan pasti akan dilihat dari dua sudut pandang, positif dan negatif. Tapi setelah itu? Justru itulah saatnya kita MENDENGARKAN. Mendengarkan apa kata orang tentang kita. Mendengarkan apa baiknya kita menurut orang, mendengarkan apa buruknya kita menurut orang.

Sejujurnya saya lebih suka mendengarkan orang lain membicarakan saya -baik bagus ataupun buruknya- di depan saya, daripada di belakang. Dan jika saya tahu keburukan saya menurut orang lain, memang kenapa? Banyak orang tidak suka mendengar keburukan mereka sendiri. Well if that’s yours, admit it. Whatever it is, it’s you. It’s your good and bad makes the real you. 🙂

Karena kesalahan ada untuk diintrospeksi dan diperbaiki. Yuk sama-sama berusaha menjadi lebih baik. Gampang sih ngomongnya, saya juga tahu jika menjalaninya tidak akan semudah itu. Well yang paling penting menurut saya sih, marilah kita MENDENGARKAN. Jangan menutup telinga atas kesalahan atau keburukan kita. Saat kita belum bisa merubahnya, cukuplah dengan mengakuinya. Because when there’s no more to do, and no more to say, it’s time to listen. 🙂

Cheers xxx

Udah Tau Kan Rasanya Dapet IP Jelek? Makanya Belajar Yang Bener!!!

Bismillahirrahmaanirrahiimm, udah keliatan yak dari judulnya? Yap bener banget, hari ini yudisium. Means, nilai ujian satu semester keluar semua. Means, semua usaha belajar enam bulan penuh akan di-ANGKA-kan. Means, saatnya berbahagia atau menyesal. Bahagia kalo IP kita bagus, baik dengan usaha belajar enam bulan yang emang jos banget atopun yang belajarnya pas-pasan tapi emang dasar orangnya sejenis miliuner gegara pasar modal, yap, lots of luck. Sedangkan buat mereka-mereka yang IP nya jelek, baik setelah usaha belajar pol-polan atau emang gegara belajarnya asal-asalan, yaahh nampaknya ini teguran dari Allah kawan :””””

Saya sendiri? Beberapa menit yang lalu suuuupeerr duper sedih. Karena emang beneran IP saya terjun bebas dari semester kemaren. Dan saya nyesel se nyesel-nyeselnya bahwa belajar saya kurang maksimal selama ini, KULIAH SAYA JARANG BANGET DENGERIN DOSEN, males-malesan sebelum belajar ujian, dan penyesalan-penyesalan lain yang -emang, kaya kata orang- datengnya belakangan. Saya shock, sempet ngerasa yang nyeseeeeekk banget banget. Nyesek aja gitu, temen saya yang saya tau kerjaannya pacaran mulu masa ga kena remed sama sekali ujiannya? Sedangkan saya yang jomblo forever sampe sekarang -curhat :p- masih juga kena remed. Apa salah sayaaaaaa?????!!

Lalu kesuraman saya ini agak sirna setelah baca twit salah satu senior saya, bahwa tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain kalo itu cuma bakal ngurangin rasa syukur kita ke Sang Maha Pemberi Nikmat. Dan setelah saya renungkan BENER banget. Nikmat ini, ada di sini sekarang, status saya sebagai mahasiswa FK, saya yang -cuma- remed dua -yang gaada apa-apanya kalo dibandingkan puluhan bahkan ratusan temen saya yang remednya bejibun-, saya yang gak perlu belajar lagi buat SP -sementara temen-temen saya banyak yang ngeluh soal SP di musim liburan ini-, dan banyak yang lainnya. Tidakkah itu harusnya membuat saya bersyukur sudah LULUS? Sudah punya liburan lebih banyak daripada temen-temen yang harus SP dan remed banyak? Sudah jadi MAHASISWA yang bahkan banyak di luar sana memperebutkan status saya ini.

Saya tahu melihat kebawah akan membuat saya merasa di atas, namun saya ingat bahkan sangat ingat bahwa diatas saya ada BANYAK yang jauh jauh jauh lebih super. Dan untuk memotivasi diri saya, kesanalah saya akan melihat, satu semester ke depan.

Dan satu lagi yang menghilangkan kesuraman saya, bahwa IP ini bukan apa-apa. IP ini hanya tolak ukur kelulusan sebagai mahasiswa FK. Sedangkan kita punya kehidupan yang lebih abadi, kehidupan yang akan kita jalani SELAMA-LAMANYA tanpa ada batas. Dan apa IP salah satu syarat mendapatkan kebahagiaan yang kekal itu? TIDAK.

Jadi kesimpulannya, IP jelek bukan akhir dari dunia. Semester depan AYO TETEP SEMANGAT! ISTIQOMAH BERIBADAH KEPADA SANG PENCIPTA, BELAJAR UNTUK DIPERTANGGUNGJAWABKAN ILMUMU DI AKHIRAT KELAK, BUKAN UNTUK IP SEMATA.
Dia tidakpernah menolak orang yang memerlukan uluran bantuan. CINTAI DIA DAN DIA AKAN MENCINTAIMU. TAATI PERINTAHNYA MAKA KESUKSESAN AKAN MENGIKUTIMU 😀

Terakhir, mari bersama mengucap syukur kepadanya atas semua-muanya, Alhamdulillahirrabil’aalamiinn